Saturday, July 13, 2013

Sejarah Komite Nasional Pemuda Indonesia


Komite Nasional Pemuda Indonesia atau biasa dikenal dengan singkatan KNPI merupakan organisasi berhimpun kepemudaan yang embrio awalnya merupakan gabungan dari kelompok Cipayung (Forum bersama HMI, GMKI, PMII, GMNI dan PMKRI yang dibentuk pada tanggal 22 Januari 1972 di Cipayung, Jawa barat) melalui deklarasi yang dipimpin oleh David Napitulu pada tanggal 23 Juli 1973.

Disamping itu Deklarasi Pemuda Indonesia, 23 Juli 1973, merupakan landasan kelahirannya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), muncul dari sebuah kesadaran akan tanggung jawab pemuda Indonesia dalam mengerahkan segenap upaya dan kemampuan untuk menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan kesadaran sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945).
Deklarasi Pemuda bertujuan menindaklanjuti isi pesan suci Sumpah Pemuda yang telah menggariskan kebutuhan keberhimpunan, dengan menyatukan satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa, dan ikut mengisi kemerdekaan.

KNPI sendiri terdiri dari Gabungan dari kelompok Cipayung, orang-orang binaan kader Golkar, dan Tentara betulan adalah yang membentuk organisasi yang kemudian bernama KNPI. Walhasil KNPI di awal berdirinya adalah organisasi yang mendapat “karpet merah” dari penguasa Orde Baru, Jenderal Suharto.

Buktinya akhir tahun 1973 delegasi KNPI adalah satu-satunya delegasi yang sangat dinikmati kehadirannya oleh Deputi Bappenas JB Sumarlin dalam serangkaian unjuk rasa mahasiswa yang marak pada saat itu menentang masuknya modal asing.

Saat itu kubu KNPI atau bisa dibilang kubu Ali Moertopo membawa konsep-konsep yang digodok oleh CSIS di Tanah Abang berhadapan dengan konsep Menteri Perekonomian/Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro yang umum dikatakan sebagai “mafia Berkeley”.

Pertarungan klasik yang kemudian melahirkan strategi pembangunan Suharto yang berasal dari kompromi konsep percepatan pembangunan 5 tahun ala Widjojo digabung dengan repelita 25 tahun Ali Moertopo-CSIS.

Sejarah kemudian mencatat rangkaian aksi unjuk rasa mahasiwa saat itu berujung pada peristiwa Malari di awal tahun 1974. Ternyata tidak satu pun dari deklarator KNPI menjadi bagian dari mahasiswa yang ditangkap seusai peristiwa naas tersebut.

Tercatat hanya mahasiswa dari GDUI, seperti Hariman Siregar, Fahmi Idris, dan Sjahrir dan orang-orang “PSI” seperti Sarbini, Soebadio, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, dan Rahman Tolleng yang harus mendekam di Salemba.

Suasana aktivis dan pergerakan mahasiswa pada saat itu sesungguhnya tidak ada yang tidak dekat dengan orang dekat Soeharto ataupun penguasa Golkar.

Dalam biografinya Hariman Siregar bercerita mengapa dia sukses menjadi Ketua Dema UI menggusur dominasi HMI. Naiknya Hariman pada saat itu didukung penuh oleh tim 10 yang didalamnya terdapat nama Aulia Rahman, Posdam Hutasoit, Freddy Latumahina, dan LeoTomasoa.

Nama-nama tersebut adalah nama-nama yang dikenal sebagai orang ‘binaan” Ali Moertopo, bagian dari Sespri Presiden yang mempunyai dukungan jaringan dan dana yang nyaris tak terbatas.

Hariman bercerita di dalam bukunya bahwa dia memang sengaja bermain-main di antara dua gajah yang bertarung. Jika dia berada di kalangan Sespri, dia akan bilang dia dekat dengan Pangkopkamtib Soemitro, jika sedang berada dekat dengan Pangkopkamtib dia akan bilang merupakan asuhan dari Ali Moertopo.

Tetapi Hariman cenderung melihat sebelah mata pada para deklarator KNPI karena praktis deklarator KNPI tidak ada yang diciduk setelah peristiwa Malari, padahal mereka juga kawan-kawan dia.

Selepas dari penjara para korban peristiwa Malari banyak yang kemudian menjadi kader Golkar. Entah itu dengan todongan senjata atau gemerincing dolar minyak, yang pasti pilihan menjadi bagian dari keluarga besar Golkar adalah pilihan yang paling rasional berbanding dengan nasib buruk berhadapan dengan kekuatan Soeharto yang sedang berjaya.

Salah satu penghuni penjara Malari yang kemudian menjadi ketua KNPI adalah Fahmi Idris. Sedangkan Hariman lebih memilih menjadi orang di belakang layar dan Sjahrir kemudian menjadi Doktor Ekonomi lulusan Harvard, Massachusetts.

Sejarah membuktikan bahwa strategi konflik yang terukur dari rivalitas, Ali Moertopo vs Soemitro, CSIS vs MafiaBerkeley, adalah strategi intelijen yang jitu untuk memantapkan stabilitas kekuasaan Soeharto.

KNPI dalam kiprahnya kemudian menjadi perangkat paling efektif untuk mengukur dinamika kelompok pemuda yang sejak lahirnya Orde Baru melupakan kelompok yang paling potensial mengganggu kekuasaan rejim.

Komite ini pula berdiri setelah melewati berbagai momentum penting seperti, Deklarasi Pemuda Indonesia (1973), Permufakatan Pemuda Indonesia (1987), Tekad Pemuda Indonesia (1999), Paradigma Baru KNPI (2002), Dualisme KNPI (2008), kemudian bersatu lagi pada 2011.



Khusus untuk KNPI di Kabupaten Banggai diawali oleh Bung Usman P. Abdullah sebagai Ketua Umum DPD KNPI Kabupaten Banggai yang pertama yang kemudian digantikan oleh bung Drs. H. Jar’un Sibay. Selanjutnya KNPI Kabupaten Banggai dipimpin oleh bung dr. Syamsir Noer dan digantikan oleh bung Moh. Riffai Dg. Matorang yang memimpin selama dua periode dan diteruskan oleh bung Isnaeni Larekeng, selanjutnya KNPI Banggai dipimpin oleh bung Alfian Djibran selama dua periode 2002-2005, 2005-2008 yang kemudian pada Muskab XI Pemuda/KNPI tahun 2009 digantikan oleh bung Muh. Safari Junus sebagai Ketua DPK KNPI Banggai periode 2009-2012. Musdakab XII Pemuda/KNPI Tahun 2012 memberikan kepercayaan kepada Hj. Batia Sisilia Hadjar, SE untuk mempimpin KNPI Kabupaten Banggai Periode 2012-2015

 

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang pada mulanya dideklarasikan oleh David Napitulu pada 23 Juli 1973, terdiri atas orang orang muda yang dibina cukup lama oleh penguasa orde baru.
Disamping itu Deklarasi Pemuda Indonesia, 23 Juli 1973, merupakan landasan kelahirannya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), muncul dari sebuah kesadaran akan tanggung jawab pemuda Indonesia dalam mengerahkan segenap upaya dan kemampuan untuk menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan kesadaran sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945).
Deklarasi Pemuda bertujuan menindaklanjuti isi pesan suci Sumpah Pemuda yang telah menggariskan kebutuhan keberhimpunan, dengan menyatukan satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa, dan ikut mengisi kemerdekaan.
KNPI sendiri terdiri dari Gabungan dari kelompok Cipayung, orang-orang binaan kader Golkar, dan Tentara betulan adalah yang membentuk organisasi yang kemudian bernama KNPI. Walhasil KNPI di awal berdirinya adalah organisasi yang mendapat “karpet merah” dari penguasa Orde Baru, Jenderal Suharto.
Buktinya akhir tahun 1973 delegasi KNPI adalah satu-satunya delegasi yang sangat dinikmati kehadirannya oleh Deputi Bappenas JB Sumarlin dalam serangkaian unjuk rasa mahasiswa yang marak pada saat itu menentang masuknya modal asing.
Saat itu kubu KNPI atau bisa dibilang kubu Ali Moertopo membawa konsep-konsep yang digodok oleh CSIS di Tanah Abang berhadapan dengan konsep Menteri Perekonomian/Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro yang umum dikatakan sebagai “mafia Berkeley”.
Pertarungan klasik yang kemudian melahirkan strategi pembangunan Suharto yang berasal dari kompromi konsep percepatan pembangunan 5 tahun ala Widjojo digabung dengan repelita 25 tahun Ali Moertopo-CSIS.
Sejarah kemudian mencatat rangkaian aksi unjuk rasa mahasiwa saat itu berujung pada peristiwa Malari di awal tahun 1974. Ternyata tidak satu pun dari deklarator KNPI menjadi bagian dari mahasiswa yang ditangkap seusai peristiwa naas tersebut.
Tercatat hanya mahasiswa dari GDUI, seperti Hariman Siregar, Fahmi Idris, dan Sjahrir dan orang-orang “PSI” seperti Sarbini, Soebadio, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, dan Rahman Tolleng yang harus mendekam di Salemba.
Suasana aktivis dan pergerakan mahasiswa pada saat itu sesungguhnya tidak ada yang tidak dekat dengan orang dekat Soeharto ataupun penguasa Golkar.
Dalam biografinya Hariman Siregar bercerita mengapa dia sukses menjadi Ketua Dema UI menggusur dominasi HMI. Naiknya Hariman pada saat itu didukung penuh oleh tim 10 yang didalamnya terdapat nama Aulia Rahman, Posdam Hutasoit, Freddy Latumahina, dan LeoTomasoa.
Nama-nama tersebut adalah nama-nama yang dikenal sebagai orang ‘binaan” Ali Moertopo, bagian dari Sespri Presiden yang mempunyai dukungan jaringan dan dana yang nyaris tak terbatas.
Hariman bercerita di dalam bukunya bahwa dia memang sengaja bermain-main di antara dua gajah yang bertarung. Jika dia berada di kalangan Sespri, dia akan bilang dia dekat dengan Pangkopkamtib Soemitro, jika sedang berada dekat dengan Pangkopkamtib dia akan bilang merupakan asuhan dari Ali Moertopo.
Tetapi Hariman cenderung melihat sebelah mata pada para deklarator KNPI karena praktis deklarator KNPI tidak ada yang diciduk setelah peristiwa Malari, padahal mereka juga kawan-kawan dia.
Selepas dari penjara para korban peristiwa Malari banyak yang kemudian menjadi kader Golkar. Entah itu dengan todongan senjata atau gemerincing dolar minyak, yang pasti pilihan menjadi bagian dari keluarga besar Golkar adalah pilihan yang paling rasional berbanding dengan nasib buruk berhadapan dengan kekuatan Soeharto yang sedang berjaya.
Salah satu penghuni penjara Malari yang kemudian menjadi ketua KNPI adalah Fahmi Idris. Sedangkan Hariman lebih memilih menjadi orang di belakang layar dan Sjahrir kemudian menjadi Doktor Ekonomi lulusan Harvard, Massachusetts.
Sejarah membuktikan bahwa strategi konflik yang terukur dari rivalitas, Ali Moertopo vs Soemitro, CSIS vs MafiaBerkeley, adalah strategi intelijen yang jitu untuk memantapkan stabilitas kekuasaan Soeharto.
KNPI dalam kiprahnya kemudian menjadi perangkat paling efektif untuk mengukur dinamika kelompok pemuda yang sejak lahirnya Orde Baru melupakan kelompok yang paling potensial mengganggu kekuasaan rejim.
Komite ini pula berdiri setelah melewati berbagai momentum penting seperti, Deklarasi Pemuda Indonesia (1973), Permufakatan Pemuda Indonesia (1987), Tekad Pemuda Indonesia (1999), Paradigma Baru KNPI (2002), Dualisme KNPI (2008)
- See more at: http://www.infoakademika.com/sejarah-berdirinya-knpi/#sthash.GDLgHQuR.dpuf
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang pada mulanya dideklarasikan oleh David Napitulu pada 23 Juli 1973, terdiri atas orang orang muda yang dibina cukup lama oleh penguasa orde baru.
Disamping itu Deklarasi Pemuda Indonesia, 23 Juli 1973, merupakan landasan kelahirannya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), muncul dari sebuah kesadaran akan tanggung jawab pemuda Indonesia dalam mengerahkan segenap upaya dan kemampuan untuk menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan kesadaran sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945).
Deklarasi Pemuda bertujuan menindaklanjuti isi pesan suci Sumpah Pemuda yang telah menggariskan kebutuhan keberhimpunan, dengan menyatukan satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa, dan ikut mengisi kemerdekaan.
KNPI sendiri terdiri dari Gabungan dari kelompok Cipayung, orang-orang binaan kader Golkar, dan Tentara betulan adalah yang membentuk organisasi yang kemudian bernama KNPI. Walhasil KNPI di awal berdirinya adalah organisasi yang mendapat “karpet merah” dari penguasa Orde Baru, Jenderal Suharto.
Buktinya akhir tahun 1973 delegasi KNPI adalah satu-satunya delegasi yang sangat dinikmati kehadirannya oleh Deputi Bappenas JB Sumarlin dalam serangkaian unjuk rasa mahasiswa yang marak pada saat itu menentang masuknya modal asing.
Saat itu kubu KNPI atau bisa dibilang kubu Ali Moertopo membawa konsep-konsep yang digodok oleh CSIS di Tanah Abang berhadapan dengan konsep Menteri Perekonomian/Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro yang umum dikatakan sebagai “mafia Berkeley”.
Pertarungan klasik yang kemudian melahirkan strategi pembangunan Suharto yang berasal dari kompromi konsep percepatan pembangunan 5 tahun ala Widjojo digabung dengan repelita 25 tahun Ali Moertopo-CSIS.
Sejarah kemudian mencatat rangkaian aksi unjuk rasa mahasiwa saat itu berujung pada peristiwa Malari di awal tahun 1974. Ternyata tidak satu pun dari deklarator KNPI menjadi bagian dari mahasiswa yang ditangkap seusai peristiwa naas tersebut.
Tercatat hanya mahasiswa dari GDUI, seperti Hariman Siregar, Fahmi Idris, dan Sjahrir dan orang-orang “PSI” seperti Sarbini, Soebadio, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, dan Rahman Tolleng yang harus mendekam di Salemba.
Suasana aktivis dan pergerakan mahasiswa pada saat itu sesungguhnya tidak ada yang tidak dekat dengan orang dekat Soeharto ataupun penguasa Golkar.
Dalam biografinya Hariman Siregar bercerita mengapa dia sukses menjadi Ketua Dema UI menggusur dominasi HMI. Naiknya Hariman pada saat itu didukung penuh oleh tim 10 yang didalamnya terdapat nama Aulia Rahman, Posdam Hutasoit, Freddy Latumahina, dan LeoTomasoa.
Nama-nama tersebut adalah nama-nama yang dikenal sebagai orang ‘binaan” Ali Moertopo, bagian dari Sespri Presiden yang mempunyai dukungan jaringan dan dana yang nyaris tak terbatas.
Hariman bercerita di dalam bukunya bahwa dia memang sengaja bermain-main di antara dua gajah yang bertarung. Jika dia berada di kalangan Sespri, dia akan bilang dia dekat dengan Pangkopkamtib Soemitro, jika sedang berada dekat dengan Pangkopkamtib dia akan bilang merupakan asuhan dari Ali Moertopo.
Tetapi Hariman cenderung melihat sebelah mata pada para deklarator KNPI karena praktis deklarator KNPI tidak ada yang diciduk setelah peristiwa Malari, padahal mereka juga kawan-kawan dia.
Selepas dari penjara para korban peristiwa Malari banyak yang kemudian menjadi kader Golkar. Entah itu dengan todongan senjata atau gemerincing dolar minyak, yang pasti pilihan menjadi bagian dari keluarga besar Golkar adalah pilihan yang paling rasional berbanding dengan nasib buruk berhadapan dengan kekuatan Soeharto yang sedang berjaya.
Salah satu penghuni penjara Malari yang kemudian menjadi ketua KNPI adalah Fahmi Idris. Sedangkan Hariman lebih memilih menjadi orang di belakang layar dan Sjahrir kemudian menjadi Doktor Ekonomi lulusan Harvard, Massachusetts.
Sejarah membuktikan bahwa strategi konflik yang terukur dari rivalitas, Ali Moertopo vs Soemitro, CSIS vs MafiaBerkeley, adalah strategi intelijen yang jitu untuk memantapkan stabilitas kekuasaan Soeharto.
KNPI dalam kiprahnya kemudian menjadi perangkat paling efektif untuk mengukur dinamika kelompok pemuda yang sejak lahirnya Orde Baru melupakan kelompok yang paling potensial mengganggu kekuasaan rejim.
Komite ini pula berdiri setelah melewati berbagai momentum penting seperti, Deklarasi Pemuda Indonesia (1973), Permufakatan Pemuda Indonesia (1987), Tekad Pemuda Indonesia (1999), Paradigma Baru KNPI (2002), Dualisme KNPI (2008)
- See more at: http://www.infoakademika.com/sejarah-berdirinya-knpi/#sthash.GDLgHQuR.dpuf
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang pada mulanya dideklarasikan oleh David Napitulu pada 23 Juli 1973, terdiri atas orang orang muda yang dibina cukup lama oleh penguasa orde baru.
Disamping itu Deklarasi Pemuda Indonesia, 23 Juli 1973, merupakan landasan kelahirannya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), muncul dari sebuah kesadaran akan tanggung jawab pemuda Indonesia dalam mengerahkan segenap upaya dan kemampuan untuk menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan kesadaran sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945).
Deklarasi Pemuda bertujuan menindaklanjuti isi pesan suci Sumpah Pemuda yang telah menggariskan kebutuhan keberhimpunan, dengan menyatukan satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa, dan ikut mengisi kemerdekaan.
KNPI sendiri terdiri dari Gabungan dari kelompok Cipayung, orang-orang binaan kader Golkar, dan Tentara betulan adalah yang membentuk organisasi yang kemudian bernama KNPI. Walhasil KNPI di awal berdirinya adalah organisasi yang mendapat “karpet merah” dari penguasa Orde Baru, Jenderal Suharto.
Buktinya akhir tahun 1973 delegasi KNPI adalah satu-satunya delegasi yang sangat dinikmati kehadirannya oleh Deputi Bappenas JB Sumarlin dalam serangkaian unjuk rasa mahasiswa yang marak pada saat itu menentang masuknya modal asing.
Saat itu kubu KNPI atau bisa dibilang kubu Ali Moertopo membawa konsep-konsep yang digodok oleh CSIS di Tanah Abang berhadapan dengan konsep Menteri Perekonomian/Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro yang umum dikatakan sebagai “mafia Berkeley”.
Pertarungan klasik yang kemudian melahirkan strategi pembangunan Suharto yang berasal dari kompromi konsep percepatan pembangunan 5 tahun ala Widjojo digabung dengan repelita 25 tahun Ali Moertopo-CSIS.
Sejarah kemudian mencatat rangkaian aksi unjuk rasa mahasiwa saat itu berujung pada peristiwa Malari di awal tahun 1974. Ternyata tidak satu pun dari deklarator KNPI menjadi bagian dari mahasiswa yang ditangkap seusai peristiwa naas tersebut.
Tercatat hanya mahasiswa dari GDUI, seperti Hariman Siregar, Fahmi Idris, dan Sjahrir dan orang-orang “PSI” seperti Sarbini, Soebadio, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, dan Rahman Tolleng yang harus mendekam di Salemba.
Suasana aktivis dan pergerakan mahasiswa pada saat itu sesungguhnya tidak ada yang tidak dekat dengan orang dekat Soeharto ataupun penguasa Golkar.
Dalam biografinya Hariman Siregar bercerita mengapa dia sukses menjadi Ketua Dema UI menggusur dominasi HMI. Naiknya Hariman pada saat itu didukung penuh oleh tim 10 yang didalamnya terdapat nama Aulia Rahman, Posdam Hutasoit, Freddy Latumahina, dan LeoTomasoa.
Nama-nama tersebut adalah nama-nama yang dikenal sebagai orang ‘binaan” Ali Moertopo, bagian dari Sespri Presiden yang mempunyai dukungan jaringan dan dana yang nyaris tak terbatas.
Hariman bercerita di dalam bukunya bahwa dia memang sengaja bermain-main di antara dua gajah yang bertarung. Jika dia berada di kalangan Sespri, dia akan bilang dia dekat dengan Pangkopkamtib Soemitro, jika sedang berada dekat dengan Pangkopkamtib dia akan bilang merupakan asuhan dari Ali Moertopo.
Tetapi Hariman cenderung melihat sebelah mata pada para deklarator KNPI karena praktis deklarator KNPI tidak ada yang diciduk setelah peristiwa Malari, padahal mereka juga kawan-kawan dia.
Selepas dari penjara para korban peristiwa Malari banyak yang kemudian menjadi kader Golkar. Entah itu dengan todongan senjata atau gemerincing dolar minyak, yang pasti pilihan menjadi bagian dari keluarga besar Golkar adalah pilihan yang paling rasional berbanding dengan nasib buruk berhadapan dengan kekuatan Soeharto yang sedang berjaya.
Salah satu penghuni penjara Malari yang kemudian menjadi ketua KNPI adalah Fahmi Idris. Sedangkan Hariman lebih memilih menjadi orang di belakang layar dan Sjahrir kemudian menjadi Doktor Ekonomi lulusan Harvard, Massachusetts.
Sejarah membuktikan bahwa strategi konflik yang terukur dari rivalitas, Ali Moertopo vs Soemitro, CSIS vs MafiaBerkeley, adalah strategi intelijen yang jitu untuk memantapkan stabilitas kekuasaan Soeharto.
KNPI dalam kiprahnya kemudian menjadi perangkat paling efektif untuk mengukur dinamika kelompok pemuda yang sejak lahirnya Orde Baru melupakan kelompok yang paling potensial mengganggu kekuasaan rejim.
Komite ini pula berdiri setelah melewati berbagai momentum penting seperti, Deklarasi Pemuda Indonesia (1973), Permufakatan Pemuda Indonesia (1987), Tekad Pemuda Indonesia (1999), Paradigma Baru KNPI (2002), Dualisme KNPI (2008)
- See more at: http://www.infoakademika.com/sejarah-berdirinya-knpi/#sthash.GDLgHQuR.dpuf
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang pada mulanya dideklarasikan oleh David Napitulu pada 23 Juli 1973, terdiri atas orang orang muda yang dibina cukup lama oleh penguasa orde baru.
Disamping itu Deklarasi Pemuda Indonesia, 23 Juli 1973, merupakan landasan kelahirannya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), muncul dari sebuah kesadaran akan tanggung jawab pemuda Indonesia dalam mengerahkan segenap upaya dan kemampuan untuk menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan kesadaran sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945).
Deklarasi Pemuda bertujuan menindaklanjuti isi pesan suci Sumpah Pemuda yang telah menggariskan kebutuhan keberhimpunan, dengan menyatukan satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa, dan ikut mengisi kemerdekaan.
KNPI sendiri terdiri dari Gabungan dari kelompok Cipayung, orang-orang binaan kader Golkar, dan Tentara betulan adalah yang membentuk organisasi yang kemudian bernama KNPI. Walhasil KNPI di awal berdirinya adalah organisasi yang mendapat “karpet merah” dari penguasa Orde Baru, Jenderal Suharto.
Buktinya akhir tahun 1973 delegasi KNPI adalah satu-satunya delegasi yang sangat dinikmati kehadirannya oleh Deputi Bappenas JB Sumarlin dalam serangkaian unjuk rasa mahasiswa yang marak pada saat itu menentang masuknya modal asing.
Saat itu kubu KNPI atau bisa dibilang kubu Ali Moertopo membawa konsep-konsep yang digodok oleh CSIS di Tanah Abang berhadapan dengan konsep Menteri Perekonomian/Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro yang umum dikatakan sebagai “mafia Berkeley”.
Pertarungan klasik yang kemudian melahirkan strategi pembangunan Suharto yang berasal dari kompromi konsep percepatan pembangunan 5 tahun ala Widjojo digabung dengan repelita 25 tahun Ali Moertopo-CSIS.
Sejarah kemudian mencatat rangkaian aksi unjuk rasa mahasiwa saat itu berujung pada peristiwa Malari di awal tahun 1974. Ternyata tidak satu pun dari deklarator KNPI menjadi bagian dari mahasiswa yang ditangkap seusai peristiwa naas tersebut.
Tercatat hanya mahasiswa dari GDUI, seperti Hariman Siregar, Fahmi Idris, dan Sjahrir dan orang-orang “PSI” seperti Sarbini, Soebadio, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, dan Rahman Tolleng yang harus mendekam di Salemba.
Suasana aktivis dan pergerakan mahasiswa pada saat itu sesungguhnya tidak ada yang tidak dekat dengan orang dekat Soeharto ataupun penguasa Golkar.
Dalam biografinya Hariman Siregar bercerita mengapa dia sukses menjadi Ketua Dema UI menggusur dominasi HMI. Naiknya Hariman pada saat itu didukung penuh oleh tim 10 yang didalamnya terdapat nama Aulia Rahman, Posdam Hutasoit, Freddy Latumahina, dan LeoTomasoa.
Nama-nama tersebut adalah nama-nama yang dikenal sebagai orang ‘binaan” Ali Moertopo, bagian dari Sespri Presiden yang mempunyai dukungan jaringan dan dana yang nyaris tak terbatas.
Hariman bercerita di dalam bukunya bahwa dia memang sengaja bermain-main di antara dua gajah yang bertarung. Jika dia berada di kalangan Sespri, dia akan bilang dia dekat dengan Pangkopkamtib Soemitro, jika sedang berada dekat dengan Pangkopkamtib dia akan bilang merupakan asuhan dari Ali Moertopo.
Tetapi Hariman cenderung melihat sebelah mata pada para deklarator KNPI karena praktis deklarator KNPI tidak ada yang diciduk setelah peristiwa Malari, padahal mereka juga kawan-kawan dia.
Selepas dari penjara para korban peristiwa Malari banyak yang kemudian menjadi kader Golkar. Entah itu dengan todongan senjata atau gemerincing dolar minyak, yang pasti pilihan menjadi bagian dari keluarga besar Golkar adalah pilihan yang paling rasional berbanding dengan nasib buruk berhadapan dengan kekuatan Soeharto yang sedang berjaya.
Salah satu penghuni penjara Malari yang kemudian menjadi ketua KNPI adalah Fahmi Idris. Sedangkan Hariman lebih memilih menjadi orang di belakang layar dan Sjahrir kemudian menjadi Doktor Ekonomi lulusan Harvard, Massachusetts.
Sejarah membuktikan bahwa strategi konflik yang terukur dari rivalitas, Ali Moertopo vs Soemitro, CSIS vs MafiaBerkeley, adalah strategi intelijen yang jitu untuk memantapkan stabilitas kekuasaan Soeharto.
KNPI dalam kiprahnya kemudian menjadi perangkat paling efektif untuk mengukur dinamika kelompok pemuda yang sejak lahirnya Orde Baru melupakan kelompok yang paling potensial mengganggu kekuasaan rejim.
Komite ini pula berdiri setelah melewati berbagai momentum penting seperti, Deklarasi Pemuda Indonesia (1973), Permufakatan Pemuda Indonesia (1987), Tekad Pemuda Indonesia (1999), Paradigma Baru KNPI (2002), Dualisme KNPI (2008)
- See more at: http://www.infoakademika.com/sejarah-berdirinya-knpi/#sthash.GDLgHQuR.dpuf
Share On:

0 komentar:

Post a Comment

Berilah komentar anda dengan bijak